Bukan Empat Mata - Briptu Norman

Teknologi Sederhana

Teknologi Sederhana Kompor Biji Jarak

Oleh RM Bagus Irawan Di tengah krisis energi di negeri ini, terutama kelangkaan minyak tanah dan gas elpiji yang kerap ’’hilang’’ di pasaran, ada baiknya kita mempertimbangkan alternatif lain. Biji jarak, misalnya, sudah sering diekspose di media sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kelangkaan energi fosil.

BICARA soal biji jarak, tentu kita harus bicara pula mengenai kompor khususnya. Beberapa waktu lalu, penulis berkunjung ke Dusun / Kelurahan Potorono, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Dusun ini merupakan salah satu sentra perajin kompor biji jarak.

Dulu mereka merupakan komunitas perajin kompor minyak tanah (mitan). Ketika minyak tanah pelan-pelan dikonversi pemerintah, dan masyarakat pun mulai terbiasa memakai kompor gas elpiji, para perajin tidak kehilangan akal. Mereka memodifikasi kompor tersebut menjadi kompor biji jarak.

Dalam kesederhanaannya, perajin di Dusun Potorono mampu menemukan teknologi sederhana yang potensial tersebut. Teknologi ini membawa dampak signifikan bagi warga yang kesulitan mengunakan kompor mitan, karena tidak adaya minyak tanah, namun enggan beralih ke gas elpiji karena berbagai sebab.

Mengapa penulis menyebutnya teknologi sederhana? Hal ini karena proses pembuatannya tidak memerlukan teknologi canggih, tidak perlu skill yang tinggi, bahkan hanya menggunakan bahan baku bekas yang bisa dimanfaatkan kembali. Istilah teknisnya recycle (daur ulang). Siapapun bisa membuatnya, asal ada kesempatan dan kemauan.
Proses Penyalaan Melihat konstruksinya yang sangat sederhana, Anda pun dapat membuat sendiri kompor ini. Terlebih bagi para perajin kompor mitan, sebab kompor biji jarak ini memang hasil modifikasi kompor mitan yang sudah ada sebelumnya.
Tidak heran apabila bentuk dan modelnya mirip kompor mitan. Perbedaan hanya terletak pada desain kerangka dasar bahan bakar. Kompor biji jarak tidak menggunakan sumbu. Jadi, lubang sumbu pada kompor mitan cukup ditutup logam (bisa dipatri atau las) untuk meletakkan biji jarak ke dalam kompor.

Proses penyalaan apinya juga sangat mudah, dan dapat dilakukan oleh semua orang. Caranya, biji jarak kering yang sudah dikupas dimasukkan ke dalam kompor secara merata, hingga memenuhi seluruh ruang sumbu (sekitar 200 gram).

Selanjutnya, dengan sedikit bantuan spiritus (untuk memancing bara api), kompor sudah bisa dinyalakan. Dijamin selama satu jam kompor ini akan menyala terus, tanpa perlu minyak tanah lagi. Anda pun siap menggunakannya untuk memasak berbagai keperluan rumah tangga.

Dengan harga biji jarak yang relatif murah, sekitar Rp 500 - Rp 1.000 per kilogram, kompor ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi industri andalan. Syukur-syukur bisa menjadi industri rumah tangga unggulan daerah, menggantikan industri kompor mitan yang kini mulai kehilangan pamor dan banyak ditinggalkan konsumennya.
Peluang dan Potensi Biji jarak sebagai bahan bakar pun mudah ditanam dan dibudidayakan masayarakat. Sebab pohon jarak terutama jarak pagar tidak memerlukan perawatan intensif. Ia mudah tumbuh di berbagai lokasi. Hal ini akan menjadikannya sebagai potensi baru, dan sekaligus peluang baru.

Potensi produksi kompor biji jarak sebenarnya bisa dikembangkan, bahkan direplikasikan ke daerah lain, termasuk Kota Semarang. Dengan demikian, industri kompor mitan di Barito Semarang perlu mencontoh kreativitas warga Dusun Potorono.

Untuk mengembangkan dan mereplikasi hal ini memang dibutuhkan fasilitasi Pemerintah Kota, khususnya Dinas Perindustrian, dalam upaya untuk memperbaiki nasib perajin kompor minyak tanah di Barito.

Peranserta swasta dalam memperbaiki nasib perajin juga diharapkan. Para praktisi dan pakar dari berbagai perguruan tinggi dapat menggelar pelatihan-pelatihan tentang manajemen, teknologi, dan aplikasi kompor biji jarak.

Selain itu, mereka pun bisa membuat panduan yang dikombinasikan dengan aneka pemecahan permasalahan konkrit di lapangan, sehingga bisa menumbuhkan sikap kemandirian perajin kompor biji jarak di masa datang.
Penulis sangat berharap kesuksesan warga Dusun Potorono bisa menjadi inspirasi sekaligus menumbuhkan kreativitas baru perajin kompor mitan di manapun berada. Semoga saja ! (32)

—RM Bagus Irawan ST MSi IPP, pemerhati lingkungan, konsultan dan dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Semarang

Sumber http://suaramerdeka.com/

Seorang Miskin Membangun Masjid Paling Aneh di Dunia

Bentuknya boleh sederhana, namun jamaah sudah berdatangan dari penjuru desa sebelum waktu shalat masuk

Mungkin kita tak percaya jika tidak melihat faktanya. Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong miskin, namun mampu membangun sebuah Masjid di Turki. Nama masjidnya pun paling aneh di dunia, yaitu “Shanke Yadem” (Anggap Saja Sudah Makan). Sangat aneh bukan? Dibalik Masjid yang namanya paling aneh tersebut ada cerita yang sangat menarik dan mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
Ceritanya begini :

Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang wara’ dan sangat sederhana, namanya Khairuddin Afandi. Setiap kali ke pasar ia tidak membeli apa-apa. Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya “ Shanke Yadem” .

Nah, apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)… Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.

Akhirnya, Khairuddin berhasil mewujudkan cita-ciatanya yang amt mulia itu dan masyarakat di sekitarnyapun keheranan, kok Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid dan berhasil dia wujudkan. Tidak bayak orang yang menyangka bahwa Khairud ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak bisa berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi.

Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada AKhiruddin Afandi. Mereka bertanya bagaimana ceritana soerang yang miskin bisa membangun masjid. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi namanya dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah Makan).

Subhanallah! Sekiranya orang-orang kaya dan memiliki penghasilan lebih dari kaum Muslimin di dunia ini berfikir seperti Khairuddin, berapa banyak dana yang akan terkumpul untuk kaum fakir miskin? Berapa banyak masjid, sekolah, rumah sakit dan fasilitas hidup lainnya yang dapat dibangun? Berapa banyak infra struktur yang dapat kita realisasikan, tanpa harus meminjam ke lembaga dan Negara yang memusuhi Islam dan umatnya?


Jamah yang melimpah, tanda keberkahan dan amal sholeh dari harta yang halal dan bersih

Kalaulah kaum Muslimin saat ini memiliki konsep hidup sederhana dan mementingkan kehidupan akhirat dan mengutamakan istana di syurga ketimbang rumah di dunia, seperti yang dimiliki Khairuddin Afandi, pastilah umat ini mampu meninggalkan yang haram dan syubhat dalam hidup mereka. Mereka pasti mampu mengalahkan syahwat duniawi yang menipu itu. Sebagai hasilnya, pastilah negeri-negeri Islam akan berlimpah keberkahan yang Allah bukakan dari langit dari bumi. Kenyataannya adalah sebaliknya.(Q.S. Al-A’raf / 7 : 96) Maka ambil pelajaranlah wahai orang-orang yang menggunakan akal sehatnya!

Note : (FJ)Dari buku “Keajaiban Sejarah Ustmani”, oleh : Ust. Urkhan Mohamad Ali
sumber:http://haxims.blogspot.com

Thomas Alva Edison

Thomas Alva Edison, seorang penemu terbesar di dunia. Bayangkan, ia menemukan 3.000 penemuan, diantara-nya lampu listrik, sistim distribusi listrik, lokomotif listrik, stasiun tenaga listrik, mikrofon, kinetoskop (proyektor film), laboratori-um riset untuk industri, fonograf (berkembang jadi tape-recorder), dan kinetograf (kamera film).

Ia anak bungsu dari tujuh bersaudara, lahir tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat. Buah perkawinan Samuel Ogden, keturunan Belanda dengan Nancy Elliot. Sebagaimana umumnya orangtua, Samuel dan Nancy menyambut kelahiran anaknya dengan suka-cita. Tidak ada hal aneh dalam proses kelahiran anak ini. Namun setelah anak ini mulai bertumbuh, terlihat hal-hal ‘aneh’ yang membuatnya lain dari anak yang lain. Bayangkan, pada usia enam tahun ia pernah mengerami telur ayam.

Setelah berumur 7 tahun, ia masuk sekolah. Tapi malang, tiga bulan kemudian ia dikeluarkan dari sekolah. Gurunya menilainya terlalu bodoh, tak mampu menerima pelajaran apa pun. Untunglah ibunya, Nancy, pernah berprofesi guru. Sang ibu mengajarnya membaca, menulis dan berhitung. Ternyata anak ini dengan cepat menyerap apa yang diajarkan ibunya.

Anak ini kemudian sangat gemar membaca. la membaca berbagai jenis buku. Berjilid-jilid ensiklopedi dibacanya tanpa jemu. Ia juga membaca buku sejarah Inggris dan Romawi, Kamus IPA karangan Ure, dan Principia karangan Newton, dan buku Ilmu Kimia karangan Richard G. Parker.

Selain itu, ia juga anak yang sangat memahami kondisi ekonomi orangtuanya. Pada umur 12 tahun ia tak enggan jadi pengasong koran, kacang, permen, dan kue di kereta api. Sebagian keuntungannya diberikan kepada orang tuanya. Hebatnya, saat berjualan di dalam kereta api itu, ia gemar pula melakukan berbagai eksprimen. Bahkan sempat menerbitkan koran Weekly Herald. Suatu ketika, saat bereksprimen, sebuah gerbong hampir terbakar karena cairan kimia tumpah. Kondektur amat marah dan menamparnya hingga pendengarannya rusak.

Kemudian sejarah ilmu pengetahuan mencatat nama orang yang hidup tahun 1847-1931 ini (meninggal di West Orange, New York, pada tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun), sebagai penemu terbesar di dunia dengan 3000 penemuan. Ia bahkan pernah menemukan 400 macam penemuan dalam masa 13 bulan. 

Sumber http://www.tokohindonesia.com

Proses Pembuatan Menara Eiffel

Menara Eiffel (bahasa Perancis: Tour Eiffel) merupakan sebuah menara besi yang di bangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris.

Menara ini telah menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia.

Struktur ini dibangun antara 1887 dan 1889 sebagai pintu masuk Exposition Universelle, Pameran Dunia yang merayakan seabad Revolusi Perancis.

Eiffel sebenarnya berencana membangun menara di Baecelona, untuk Pameran Universal 1888, tapi para pihak yang bertanggung jawab di balai Kota Barcelona menganggapnya aneh dan mahal, dan tidak cocok dengan kota itu. Setelah penolakan Rencana Barcelona, Eiffel mengirim drafnya kepada pihak yang bertanggung jawab untuk Pameran Universal di Paris, dimana ia membangun menaranya setahun kemudian, yaitu pada tahun 1889. Menara ini diresmikan pada tanggal 31 Maret 1889, dan dibuka tanggal 6 Mei. Tiga ratus pekerja menggabungkan bersama 18.083 bagian besi benam (bentuk murni dari besi struktural), menggunakan dua setengah juta paku, dalam bentuk struktural oleh Maurice Koechelin. Resiko kecelakaan sangat besar, untuk pencakar langit modern yang tak biasa menara ini terbuka tanpa tingkat tengah kecuali dua platform. Tetapi karena Eiffel mengambil sikap hati-hati, termasuk penggunaan takal bergerak, rel bantu dan layar, dan dalam hal ini hanya satu yang meninggal.










Menara ini mendapat berbagai kritik dari masyarakat ketika di bangun, menyebutnya mengganggu mata. Surat kabar harian dipenuhi dengan surat kritik dari komunitas seni di Paris.

Eiffel memiliki izin berdiri menara selama 20 tahun, yang berarti harus dibongkar tahun 1909, ketika kepemilikannya diserahkan kepada Kota Paris. Kota telah berencana meruntuhkannya (bagian dari peraturan kontes asli untuk merancang menara yang mudah di runtuhkan) tapi setelah menara ini terbukti mendatangkan untung dari segi komunikasi, menara ini dibiarkan berdiri setelah izin tersebut kadaluwarsa. Sebagai contoh, Militer menggunakannya untuk mengatur taksi Paris di garis depan selama Pertempuran Marne Pertama, dan menjadi monomen kemenangan pertempuran itu.

Sumber http://berita-aneh.blogspot.com

Cikal Cahaya Adila